Tilikan (Insight) dalam Terapi Skizofrenia

Setelah meninggalkan praktek saya sebagai dokter umum dan berpraktek selama beberapa tahun sebagai dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater, saya merasakan bahwa memberikan terapi psikiatri terkadang lebih sulit jika dibandingkan dengan memberikan terapi terbatas untuk penyakit fisik. Ketika saya masih melakukan pekerjaan saya sebagai dokter umum, seorang pasien yang datang ke tempat praktek saya umumnya datang atas keinginannya sendiri atau minimal tetap ada keinginan untuk mengobati dirinya meskipun diajak oleh orang lain. Sementara ketika saya berpraktik sebagai seorang dokter psikiater, cukup banyak pasien yang datang tidak atas keinginannya sendiri ataupun terpaksa datang karena dirujuk oleh dokter spesialis bidang lainnya. Hal yang membedakan antara pasien psikiatri yang saya contohkan dengan pasien yang datang ke dokter umum atau ke dokter spesialis bidang lainnya umumnya terletak dalam insight/tilikan pasien tentang penyakitnya.

Apakah insight itu?

Insight/tilikan adalah kesadaran dan pemahaman seseorang tentang kondisi yang dialaminya. Berkenaan dengan bidang medis, insight/tilikan sakit menunjukan seberapa paham dan sadar seseorang mengenai penyakit dan gejala yang dialaminya. Di dalam bidang psikiatri, penilaian terhadap insight/tilikan pasien merupakan salah satu hal yang wajib ketika dokter psikiater membuat diagnosa. Hal ini karena faktor insight/tilikan sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan terapi psikiatri yang diberikan. Berkaitan dengan terapi skizofrenia, dalam opini saya pribadi, faktor insight pasien merupakan faktor terpenting yang menentukan keberhasilan terapi pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Mengapa demikian? Saya akan membahasnya setelah mengenalkan terlebih dahulu pembagian insight/tilikan sakit seseorang.

Pembagian insight

Insight pada pasien psikiatri secara sederhana dapat dibagi ke dalam lima tingkatan berikut:

  • Insight derajat 1, ketika pasien menyangkal ataupun sama sekali tidak merasa sakit.
  • Insight derajat 2, ketika pasien sedikit menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh bantuan namun dalam waktu yang bersamaan juga menyangkal bahwa ia sakit.
  • Insight derajat 3, ketika pasien menyadari bahwa dirinya sakit, namun menyalahkan faktor eksternal, orang lain, masalah medis, atau masalah fisik lainnya sebagai penyebab sakitnya.
  • Insight derajat 4, ketika pasien menyadari gejala yang dialami dan penyakitnya, mengetahui bahwa hal tersebut muncul akibat pola pikirnya sendiri, namun tidak menggunakan pengetahuan tersebut untuk melakukan suatu perubahan di masa depan. Insight ini dikenal sebagai insight intelektual.
  • Insight derajat 5, ketika pasien menyadari sepenuhnya apa yang mendasari gejala yang dialaminya, dan pasien melakukan perubahan pada perilaku dan kepribadiannya untuk mencapai pemulihan, keterbukaan terhadap ide dan konsep baru mengenai dirinya. Insight ini dikenal sebagai insight emosional sesungguhnya.

 

Insight dan Skizofrenia

Berdasarkan pembagian insight tersebut, di awal masa sakit biasanya Orang dengan Skizofrenia (ODS) tidak menyadari bahwa dirinya menderita suatu penyakit. Insightnya berada di derajat 1. Ketika insight masih berada di derajat 1, maka pengobatan terhadap kemudian menjadi sangat sulit untuk dilakukan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini, selain masalah stigma dan pengobatan ke dokter jiwa. Pertama, skizofrenia ataupun gangguan jiwa lainnya tidak menyebabkan perubahan ataupun gangguan fisik, karena konsep sakit senantiasa dikaitkan dengan masalah kesehatan jasmani ketika tidak ada masalah fisik, maka tidak ada penyakit. Kedua, gejala yang dialami dalam skizofrenia, dirasakan secara nyata oleh orang tersebut. Contohnya ketika seorang penderita skizofrenia mengalami gejala halusinasi dengar berupa suara orang yang menyuruh-nyuruhnya, maka pasien tidak akan mampu membedakan suara halusinasi dengan suara yang benar ada sumbernya di dunia nyata. Hal ini akan menyebabkan orang yang mengalaminya merasa hal tersebut merupakan suatu hal yang nyata. Untuk membaca selengkapnya mengenai gejala pada skizofrenia, Anda bisa membacanya di sini.

Insight derajat 1 inilah yang pada akhirnya menyebabkan pasien tidak mau untuk diajak berobat sementara minum obat anti psikotik dan konsultasi dengan dokter psikiater ataupun psikolog klinis merupakan hal yang penting dalam pemulihan pasien dengan skizofrenia. Jikapun pasien akhirnya dapat dibawa secara paksa oleh keluarga untuk berobat, sering kali pasien kemudian menolak untuk minum obat, menolak konsultasi ulang dengan dokter psikiater ataupun psikolog. Ketika gejala sudah menghilang, pasien kemudian juga sering memutuskan untuk tidak minum obat lagi yang akhirnya berujung pada kekambuhan gejala. Bila pun keluarga sudah menyadari pentingnya pengobatan pada skizofrenia, sering kali keluarga harus sembunyi-sembunyi dalam memberikan obat selama insight pasien tetap buruk.

Berdasarkan hal-hal yang telah dituliskan, maka meningkatkan insight setidaknya hingga derajat 3 merupakan target terapi yang juga sangat penting disamping menghilangkan gejala yang dialami pasien. Ketika seseorang sudah menyadari bahwa dirinya memang sakit atau menderita suatu gejala tertentu, maka penolakan terhadap terapi menjadi lebih minimal. Tentu tetap saja yang diharapkan adalah insight dapat meningkat hingga derajat 5, pada tahapan ini pasien sendiri yang biasanya akan aktif mencari bantuan untuk pemulihan dirinya.

Bila Anda ataupun keluarga Anda merupakan ODS, maka berdiskusilah dengan dokter Anda mengenai hal ini. Tanpa didukung peningkatan insight maka sering kali pasien skizofrenia mengalami kekambuhan gejala dalam masa perjalanan hidupnya. Semakin sering gejala kambuh maka target pemulihan akan menjadi semakin sulit tercapai. Hal ini lah yang ingin kita hindari bersama. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Mengenal Nyeri Psikogenik

Tulisan ini merupakan tulisan pindahan dari blog lama saya. Anda dapat mengaksesnya di sini.

Nyeri sering dianggap hanya merupakan gejala sakit dan abnormalitas dari fungsi tubuh tertentu. Sebenarnya nyeri juga dapat timbul akibat konflik-konflik psikologis yang tak terselesaikan dengan baik yang dikenal sebagai nyeri psikogenik. Penelitian oleh para ahli di bidang psikosomatik menunjukan bahwa selain dipengaruhi oleh kondisi nyata gangguan fisik dan kondisi jiwa, nyeri juga terpengaruh kuat oleh kondisi emosi, fungsi kognitif, dan faktor-faktor sosial yang menimbulkan serta mempertahankan rasa nyeri. Penelitian juga menunjukan bahwa respon setiap orang sangat bervariasi dan sangat personal dalam menyikapi rasa nyeri. Penting untuk membedakan antara nyeri yang murni somatik (bersumber pada masalah fisik) dan nyeri yang terpengaruh faktor psikologis. Serta mengetahui bagaimana kedua kondisi tersebut saling mempengaruhi baik dalam hal gejala maupun tata laksananya.
Ilustrasi Kasus
Pasien pria 28 tahun dikonsultasikan dari bagian Penyakit Dalam di unit rawat inap kepada saya di suatu RS. Ia mengatakan sudah menderita sakit kepala hebat sekurangnya empat tahun terakhir. Awalnya ringan, hanya dirasakan sesekali dalam satu bulan dan jika hendak kambuh, tandanya dapat dikenali pasien. Sakit bertambah parah bila pasien mengalami masalah pribadi atau tertekan secara mental meskipun pasien menyangkal adanya perasaan tidak nyaman dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Sejak tiga tahun yang lalu, pasien sudah berkeliling ke banyak dokter terutama spesialis syaraf namun tidak pernah ada yang bisa memberikan diagnosis pasti. Pasien yakin bahwa ada kelainan fisik di daerah kepalanya karena sakit terus memberat. Semakin lama sakit menyebar hingga ke seluruh kepala bagian kanan dan tidak bisa lagi dirasakan secara tepat di daerah mana paling berat. Kadang sakit dirasakan sangat berat hingga pasien meminta obat-obat penghilang rasa sakit dari rumah sakit baik obat minum hingga obat suntik. Jika sudah disuntik, pasien akan langsung tertidur dan ketika bangun, sakit sudah hilang dan pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Hal ini terus berlangsung dan semakin memberat hingga pasien tidak dapat lagi bekerja. Dua minggu sebelum dirawat, sakit dirasakan sangat hebat. Pasien tidak dapat lagi mengenali gejala kekambuhannya, sakit bisa tiba-tiba muncul begitu saja. Pasien sering menangis dan sering membenturkan kepalanya ke dinding karena tidak dapat menahan rasa sakit yang timbul. Obat suntik yang biasa digunakan juga sudah tidak mempan lagi. Sakit kepala juga berlangsung lama sekali, satu hingga dua jam. Jika sudah reda, pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Frekuensi dalam satu hari meningkat menjadi sangat sering sehingga pasien nyaris tidak bisa melakukan apa-apa. Sakit kepala bertambah berat bila pasien tertekan secara emosional. Hal ini menyebabkan rasa sedih dan kecemasan pada pasien.. Selama dirawat tetap terjadi kekambuhan walau sudah diberikan banyak obat. Hasil pemeriksaan dari bagian saraf, bagian mata, bagian penyakit dalam, pemeriksaan laboratorium dan MRI menunjukan hasil normal. Dari pemeriksaan psikiatrik terlihat adanya tanda-tanda depresi atipikal, kesulitan pengontrolan emosi, dan konflik yang berat dengan keluarga. Pasien kemudian mendapatkan terapi obat antidepresan dan psikoterapi selama beberapa waktu dengan fokus perbaikan mengatasi masalah. Perbaikan kemampuan coping dan kemampuan mengendalikan emosi sejalan dengan penurunan dari rasa sakit kepala yang diderita oleh pasien.

Apa itu nyeri psikogenik?
Nyeri psikogenik adalah nyeri yang dirasakan secara fisik yang timbulnya, derajat beratnya, dan lama berlangsungnya dipengaruhi oleh faktor mental, emosi, dan perilaku. Beberapa penelitian klinis menunjukan bahwa induksi nyeri secara sengaja pada seseorang akan memberikan hasil rasa nyeri yang tidak terlalu signifikan jika orang tersebut sedang berada dalam kondisi psikologis yang baik, tenang, damai, bahagia. Nyeri umumnya dirasakan lebih berat ketika seseorang mengalami gangguan psikiatri tertentu terutama depresi ataupun cemas.

Nyeri psikogenik yang murni psikologis umumnya ditandai dengan rasa nyeri yang menyebar, tidak terbatas pada suatu letak anatomis tertentu, dan tersebar pada banyak lokasi. Nyeri timbul tanpa adanya riwayat trauma fisik yang jelas sebelumnya atau timbul tanpa sebab. Pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga CT Scan, dan penunjang lainnya tidak dapat menunjukan adanya suatu masalah organ atau gangguan fisik tertentu. Nyeri tidak dapat hilang sepenuhnya atau seluruhnya walaupun sudah mendapatkan obat penghilang nyeri bahkan yang diberikan langsung ke dalam pembuluh darah (intra vena). Emosi dan motivasi merupakan isu pokok yang mendasari timbulnya nyeri.

Diagnosis
Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan neurologis dan psikiatrik secara menyeluruh. Diagnosis nyeri psikogenik harus didasarkan atas adanya faktor psikologis yang jelas yang berhubungan dengan rasa nyeri tersebut atau diketahui kondisi psikiatri yang jelas yang mungkin berhubungan dengan rasa nyeri. Jadi diagnosis tidak semata-mata ditegakan bila tidak ditemukannya dasar organik sebagai penyebab nyeri. Meski nyeri psikogenik juga dapat menyertai suatu sakit fisik yang nyata. Pasien yang sering mengeluhkan sakit kepala berulang atau sakit bagian tubuh lain berulang terutama ketika terdapat kondisi stres tertentu, banyak yang sebetulnya menderita nyeri psikogenik ini.

Penyebab
Di dalam ilmu psikiatri, nyeri psikogenik merupakan suatu mekanisme coping yaitu mekanisme adaptasi mental yang digunakan oleh seseorang dalam menghadapi masalah. Nyeri timbul akibat penekanan konflik psikis yang tidak dapat ditolerir. Penekanan konflik psikis ini memicu keluarnya hormon stres di dalam tubuh yang memicu perubahan sistem saraf otonom dan hormonal dalam tubuh. Pengaruh dari perubahan inilah yang pada akhirnya memicu timbulnya perasaan nyeri.

Nyeri psikogenik juga dapat merupakan gejala dari suatu gangguan psikiatri yang dinamakan kelompok gangguan somatisasi. Pada gangguan ini, nyeri muncul tanpa adanya gangguan sebenarnya pada tubuh. Jadi nyeri merupakan respon secara langsung dari konflik psikologis yang dipindahkan pada tubuh. Secara psikologis, penderita gangguan somatisasi lebih dapat menerima bahwa nyeri yang mereka rasa adalah problem fisik sementara rasa sakit yang mereka rasakan secara psikis disangkal dan dipindahkan pada tubuh.

Depresi dan cemas diketahui meningkatkan sensitifitas nyeri. Terutama pada penderita depresi lansia, sangat sering mengeluhkan berbagai problem fisik seperti sakit kepala. Pada pasien yang baru melewati operasi, beratnya gejala nyeri sudah dibuktikan bergantung dari derajat kecemasan pasien tersebut. Nyeri psikogenik yang ditemukan bersamaan dengan gangguan atau kondisi psikiatri tertentu harus dieksplorasi dengan lebih baik, selain untuk mencari penyebab dari nyeri, juga untuk menentukan tatalaksana yang tepat.

Stigma pada Nyeri Psikogenik
Para penderita nyeri psikogenik umumnya mengalami stigma baik dari kalangan medis sendiri maupun masyarakat umum. Mereka memandang bahwa rasa nyeri yang timbul dari konflik psikologis ini tidaklah nyata bila dibandingkan rasa nyeri yang timbul akibat kelainan organ atau fungsi anatomis dan fisiologis tubuh. Para penderita nyeri psikogenik sering dianggap berpura-pura dan akhirnya tidak diberikan penatalaksanaan yang tepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi ini menyebabkan tatalaksana tidak maksimal. Model biopsikososial menunjukan bahwa dalam terapinya, bukan hanya pasien saja yang menjadi fokus terapi namun lingkungan sosial dan keluarga inti perlu dilibatkan dalm proses terapi

Tatalaksana Nyeri Psikogenik
Tatalaksana nyeri psikogenik tidak dapat hanya mengandalkan pada terapi farmakologis semata-mata namun amat perlu ditunjang dengan tatalaksana secara non farmakologis. Terapi non farmakologis terutama terpusat pada psikoterapi yang lebih berorientasi pada psikodinamika pasien ataupun psikoterapi CBT. Hal ini disebabkan karena nyeri muncul akibat konflik-konflik psikologis yang tidak terselesaikan dengan baik.

Penanganan pasien dengan nyeri psikogenik, memerlukan ketelitian lebih dari dokter pemeriksa. Pasien dengan nyeri psikogenik biasanya akan ‘memaksa’ dokter untuk melakukan pemeriksaan medis berulang mulai dari pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang. Pasien akan terus berusaha mendapatkan penjelasan mengenai gejala-gejala yang dialaminya dan hal ini dapat membuat frustasi baik pasien sendiri maupun dokter pemeriksa. Pada kondisi yang berat, dapat terjadi kondisi di mana pasien akhirnya mendapatkan tindakan operatif berulang akibat nyeri yang dirasakannya yang sebetulnya tidak tepat. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor psikologis sebagai dasar dari kondisi nyeri tersebut.

Dalam tatalaksana juga sangat penting untuk tidak memberikan kesan pada pasien bahwa nyeri yang dirasakannya hanyalah “khayalan” semata dan dokter harus menunjukan empati bahwa rasa nyeri tersebut memang nyata. Tatalaksana nyeri lebih dipusatkan pada perbaikan mekanisme coping pasien. Bila nyeri psikogenik merupakan bagian dari suatu diagnosis psikiatrik tertentu maka terapi difokuskan pada kondisi psikiatrik utama yang menjadi sumber timbulnya rasa nyeri. Jika nyeri merupakan bagian dari kondisi depresi yang terselubung yaitu kondisi depresi tanpa ditemukannya gejala mood depresi dan gejala-gejala lainnya maka pemberian antidepresan akan menjadi terapi pilihan utama. Sedangkan dalam kondisi yang jarang, nyeri dapat juga dialami sebagai bagian dari gejala halusinasi pada psikotik maka pada kondisi ini, terapi farmakologis dengan antipsikotik menjadi pilihan yang utama.

 

Temper Tantrum pada Anak

Ditulis Oleh: Maria Ayuningtias, M.Psi., Psi.
Psikolog Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Temper Tantrum adalah Letupan kemarahan anak yang sering terjadi pada usia pra sekolah (2-4 tahun)
Perilaku marah ini dapat terdiri dari gabungan tingkah laku menangis, menjerit, berbaring di lantai, melempar barang, menahan napas, memukul, dan berguling-guling di lantai, serta menyepak atau menolak beranjak dari tempat tertentu.

MENGAPA TERJADI TEMPER TANTRUM?
Anak merasa lepas kendali, karena merasa sedang kacau, bingung, atau merasa ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Biasanya, anak belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa marah dan rasa frustasinya.

Anak belum mengenal konsep “nanti”, sehingga tidak dapat menunda atau menunggu pemenuhan keinginannya. Karena keinginannya tidak terpenuhi, ia merasa tidak puas dan menjadi frustrasi.

KONDISI SEPERTI APA YANG MENYEBABKAN ANAK MENGALAMI TANTRUM?
Salah satunya ketika anak merasa diabaikan. Saat orang tua atau pengasuh sibuk dengan aktivitas lain, dan tidak mempunyai waktu untuk memberikan perhatian kepada anak. Sebenarnya, yang dibutuhkan anak bukan hanya sekadar kehadiran, tetapi keterlibatan orang tua atau pengasuh di dalam kegiatannya.
BEBERAPA HAL YANG DAPAT DILAKUKAN KETIKA ANAK TANTRUM :
• Jangan memberinya perhatian berlebihan, abaikan anak, dan tetap lalukan kegiatan anda.
• Berdiam diri ( tetap tenang, berjalan menjauhinya, memandangnya tanpa emosi) sampai anak lebih tenang.
• Memegang atau mendekap anak dengan kuat tanpa mencederainya, agar ia merasa aman ( jangan memukul atau memaki anak anda)
• Mengalihkan perhatian anak, misalnya dengan menciptakan suasana humor atau melibatkan anak ke dalam aktivitas lain
• Pahami dan temukan penyebab kemarahan anak anda.
• Berikanlah pujian, dan penghargaan ketika perilaku tantrum telah berhenti.
• Jangan menyerah dengan kemarahan anak anda, jika anda menyerah, maka perilaku tantrumnya akan semakin menguat, dan diulang di kemudian hari.

APA YANG AKAN TERJADI JIKA TANTRUM TERUS BERLANJUT ?
• Anak akan belajar bahwa dengan perilaku tantrum, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Maka ia akan terus menerus mengulang perilaku tersebut.
• Anak tidak belajar tentang kedisiplinan.
• Kemarahan anak akan bertambah hebat, dan semakin meningkat
• Anak hanya akan menunjukkan kemarahannya ketika ada orang-orang lain di sekitarnya

 

Disleksia : Kesulitan Belajar Spesifik yang Sering Terlupakan

Ditulis Oleh: Maria Ayuningtias, M.Psi., Psi.
Psikolog Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Ilustrasi Kasus :

A adalah seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SD. Ketika pertama kali datang pada saya, A dikeluhkan oleh orang tua, dan guru lesnya karena mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam jangka waktu yang panjang, dan mudah lupa tentang sesuatu terutama yang berkaitan dengan pelajaran. Ia juga mengalami kesulitan dalam pelajaran dikte (spelling) dan mengeja, serta kesulitan mengerjakan tugas di sekolah yang berkaitan dengan tulis menulis jika tidak didampingi oleh orang lain. Saat di sekolah, A kesulitan ketika menjawab pertanyaan dalam bentuk tulisan, tetapi ketanya ditanya secara lisan, ia mampu menjawab dengan benar. Hal tersebut mulai nampak ketika A berada di Taman Kanak-Kanak, dan semakin bertambah “parah” ketika A duduk di bangku Sekolah Dasar, karena tuntutan yang lebih banyak untuk menulis.

Contoh kesulitan yang dialami oleh A :
• Ketika pelajaran dikte, A sering salah menulis.
Contohnya : menulis CAT (kucing dalam bahasa Inggris) menjadi  ACT
menulis OWL (burung hantu dalam bahasa Inggris) menjadi  MOL
• A sering tertukar saat menulis huruf b dengan huruf d, sering salah membedakan antara q dan p, m dan w, dan sebagainya.

Hasil tes IQ menunjukkan taraf intelegensi A yang berada pada taraf rata-rata atas. Dari hasil asesmen dengan orang tua , didapatkan pula data bahwa A mengalami keterlambatan berbicara sewaktu kecil.

Mengenal Disleksia
Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani, yaitu berasal dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata ”lexis” yang berarti bahasa. Disleksia yang secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa” merupakan suatu kesulitan belajar spesifik yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat, kesulitan dalam membaca, kesulitan dalam mengeja, kesulitan dalam menulis dan kesulitan dalam beberapa aspek bahasa yang lain.

Seringkali ditemui, anak dengan disleksia memiliki prestasi yang buruk di sekolah, meski hasil tes IQ (tes kecerdasan) menunjukkan IQ rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Beberapa ahli menganggap disleksia baru dapat ditegakkan pada usia 6-7 tahun, ketika anak menginjak bangku Sekolah Dasar. Hal tersebut dikarenakan pada usia Taman Kanak-Kanak, orang tua mau pun guru menganggap “wajar” ketika seorang anak sering terbalik menulis beberapa huruf, kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip, kesulitan menggunakan huruf besar dan kecil sesuai dengan tata cara yang benar, dan sebagainya. Bahkan dalam beberapa kasus, individu dengan disleksia tidak terdeteksi hingga usia dewasa.

Mengenali Tanda-tanda Awal Disleksia

Disleksia sering terlupakan, atau terlambat untuk di deteksi. Bahkan seringkali orang tua atau guru menganggap anak dengan disleksia adalah anak yang malas, anak yang bermasalah, hingga diberi label “anak yang bodoh”.
Beberapa tanda-tanda yang sering ditemui untuk deteksi dini disleksia (Sumber Referensi : Disleksia Today Genius Tomorrow) :
1. Adanya riwayat keluarga dekat yang juga mengalami hal yang sama
2. Mengalami keterlambatan bicara.
3. Kesulitan menemukan istilah yang tepat dalam berkomunikasi. Misalnya mengatakan kata “tebal” untuk menjelaskan kata “dalam”.
4. Kesulitan membedakan kiri dan kanan secara tepat.
5. Rentang konsentrasi yang singkat.
6. Daya ingat yang pendek.
7. Kesulitan memahami persoalan yang membutuhkan logika bahasa.
8. Berbicara terkadang gagap, atau tidak runtut ketika menceritakan tentang sesuatu.
9. Tertukar huruf yang mirip (mirror image), angka dan huruf yang mirip.
Cotoh : b dengan d atau sebaliknya , p dengan q atau sebaliknya, 5 dengan z atau s, 9 dengan 6 atau sebaliknya.

Dampak Keterlambatan Diagnosa atau Penanganan Disleksia
Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin dini deteksi disleksia, dan semakin dini pemberian intervensinya maka prognosisnya (perkembangan kedepannya) akan semakin baik. Sebaliknya ketika terjadi keterlambatan penanganan disleksia, akan berdampak pada gangguan sosial mau pun gangguan emosi. Anak mau pun remaja yang “terlewat” dari deteksi disleksia dapat menjadi individu yang kurang percaya diri karena merasa tidak pintar dibanding teman-temannya, mudah marah, dan sebagainya.

Individu dengan disleksia bukan berarti tidak dapat meraih kesuksesan di kemudian hari, jika ditangani dengan tepat. Beberapa orang terkenal juga banyak yang mengalami disleksia, antara lain : Lee Kuan Yew, Albert Einsten, Agatha Christie, dan masih banyak lagi.

Yang harus dilakukan
Sekali lagi deteksi dini sangatlah penting untuk dilakukan. Jadi jika anda, orang yang anda kenal atau anak Anda terlihat memiliki tanda-tanda yang telah dipaparkan diatas, jangan tunda lagi! Segera berkonsultasilah kepada profesional untuk membantu anda.

Semoga Bermanfaat!

Beberapa materi di dapatkan dari sumber referensi :
Disleksia Today Genius Tomorrow – dr.Purboyo Solek Sp.A (K) dan dr. Kristiantini Dewi Sp.A

Gangguan Obsesif Kompulsif

Ditulis oleh: dr.Fransiska Irma,SpKJ
Psikiater Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Apa itu gangguan obsesif kompulsif?

Gangguan obsesif kompulsif termasuk dalam kelompok gangguan cemas. Obsesif sendiri merupakan suatu pikiran yang sifatnya berulang-ulang, sangat sulit untuk dikendalikan dan terus-menerus muncul di dalam pikiran penderitanya. Pikiran ini dapat hanya merupakan suatu bayangan atau keinginan melakukan sesuatu atau dapat juga berupa kalimat atau kata-kata. Sementara kompulsif adalah tindakan yang dilakukan untuk meredakan kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran obsesif sehingga kecemasan itu dapat dikurangi. Umumnya di awal masa gangguan, pasien masih mampu menangani pikiran tersebut dan menyadari bahwa pikiran obsesif yang dialaminya bersifat tidak berdasar sehingga biasanya pikiran tersebut berusaha ditekan atau dibiarkan saja namun bila mana akhirnya kecemasan yang ditimbulkan pikiran obsesif semakin meningkat, maka disitulah biasanya muncul suatu perilaku kompulsi.

Seorang pasien saya misalnya, terus-menerus menghitung tiang listrik sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor. Pikiran ingin menghitung tiang listrik merupakan pikiran obsesif dan ketika pasien saya kemudian mulai benar-benar menghitung maka di situ muncul perilaku kompulsif. Pasien saya yang lainnya perlu mencuci tangan hingga sekitar 20 kali atau lebih setiap melakukan sesuatu yang menurutnya dapat menyebabkan tangannya kotor dan bila mana tidak dilakukan dapat menimbulkan kecemasan luar biasa di dalam dirinya. Pikiran bahwa tangannya kotor adalah pikiran obsesif sementara perilaku mencuci tangan adalah perilaku kompulsif.

Mengapa akhirnya disebut gangguan? Karena pada taraf tertentu kondisi obsesif kompulsif yang dialami akhirnya dapat menyebabkan pasien mengalami gangguan dalam kegiatannya sehari-hari baik dalam bekerja, bersekolah, ataupun bersosialisasi. Sering pasien obsesif kompulsif juga kemudian menderita depresi berkepanjangan akibat merasa stres dengan kondisi yang dialaminya.

Banyaknya orang yang mengalami gangguan ini adalah sekitar 2 hingga 3 persen. Sering tertukar dengan kepribadian obsesif kompulsif. Pada pria biasanya gejala berawal di usia yang lebih muda dibandingkan pada wanita.

Apa yang menyebabkan?

Seperti gangguan psikiatri lainnya, faktor biopsikososial diduga menjadi penyebab timbulnya gangguan ini. Secara biologis gangguan ini diduga timbul akibat adanya sistem pengaturan neurotransmiter serotonin yang bermasalah (disregulasi serotonin). Hal ini dibuktikan terutama karena nyatanya gejala obsesif kompulsif dapat dikontrol dengan baik dengan pemberian obat anti depresan golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor). Selain itu terbukti bahwa pemberian obat memiliki efektivitas yang lebih unggul dibandingkan dengan metode terapi lainnya dalam mengatasi gangguan obsesif kompulsif.

Faktor lain yang diduga terkait dengan gangguan ini adalah faktor genetik dan psikososial. Pada faktor psikososial, diduga berkaitan dengan pembiasaan perilaku dalam mengatasi hal-hal yang sifatnya menimbulkan kecemasan. Diduga pula merupakan suatu mekanisme pertahanan mental dalam mengatasi hal-hal yang menimbulkan kecemasan.

Gejala klinis
Umumnya pasien datang dengan gambaran lengkap pikiran obsesif dan perilaku kompulsif namun ada pula pasien yang hanya mengalami salah satu dari gejala pikiran obsesif atau perilaku kompulsif. Pada beberapa pasien, dapat muncul perasaan malu yang luar biasa dengan kondisinya karena pikiran-pikiran yang muncul dapat berupa pikiran “terlarang” bagi pasien sendiri.

Terapi
Hingga saat ini pemberian obat antidepresan golongan SSRI masih menjadi pilihan terbaik. Pada beberapa kasus diperlukan kombinasi dengan obat antipsikotik untuk mengatasi gejala. Psikoterapi berupa terapi perilaku dapat membantu terutama dalam mengendalikan stresor ataupun menurunkan rasa malu yang timbul akibat kondisi sakit yang dialami.

Mitos dan Fakta Obat Penenang

Tulisan ini merupakan tulisan yang dibuat oleh psikiater kami dr.Fransiska Irma,SpKJ tahun 2013 lalu dan termuat dalam blog pribadi beliau. Kami memposting ulang tulisan beliau karena banyaknya kesalahan pemikiran mengenai obat-obat psikiatri. Untuk mengakses tulisan asli, Anda dapat mengunjunginya di sini.

Oleh: dr.Fransiska Irma,SpKJ
Psikiater Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Judul tulisan saya kali ini merupakan pertanyaan yang kerap kali saya dapatkan di dalam ruangan praktek psikiatri, baik dahulu ketika saya masih menjalani pendidikan sebagai calon spesialis kedokteran jiwa ataupun saat ini ketika saya sudah berpraktek sebagai seorang psikiater. Meskipun saya tidak terlalu pasti berapa persisnya jumlah pasien atau keluarganya yang bertanya namun mengingat sangat seringnya hal ini ditanyakan maka saya memperkirakan lebih dari 70 persen pasien saya ataupun keluarganya menanyakan pertanyaan seputar obat psikiatri yang konon dianggap sebagai obat penenang. Pertanyaan ini sering ditanyakan sehingga tentu ada alasannya, dibalik pertanyaan pasien atau keluarganya saya sering melihat adanya kecemasan dan kekhawatiran yang timbul akibat mitos seputar “obat penenang” yang beredar kuat di dalam masyarakat.

Kepercayaan bahwa pergi ke dokter psikiater berarti pasti akan mendapat “obat penenang” nampaknya sangat kuat berakar dalam masyarakat Indonesia. Ketika saya memikirkan sebetulnya dari mana kepercayaan ini muncul, saya kemudian mulai melihat potongan-potongan memori dari berbagai film ataupun cerita fiksi yang beredar di masyarakat yang menggambarkan seseorang yang berteriak histeris dan kemudian mendapatkan suntikan “obat penenang” oleh psikiater atau juga adegan yang umumnya ditemukan, ketika berdialog dengan psikiater maka kalimat yang muncul kemudian adalah “nanti saya berikan obat penenang”. Ketika saya membaca berita baik itu di koran ataupun sekedar iseng browsing membaca berbagai halaman internet maupun blog, mayoritas keyword psikiater kemudian berpasangan dengan obat penenang. Budaya pop memang sangat luar biasa dalam mempengaruhi cara pandang masyarakat di jaman modern ini.

Artikel ini saya tuliskan untuk memberikan edukasi pada masyarakat awam sekaligus meluruskan salah kaprah mengenai obat-obat psikiatri karena salah kaprah ini pula yang menyebabkan pasien enggan datang mencari pertolongan meskipun sebenarnya membutuhkannya. Ketakutan cukup besar pada pasien maupun pada keluarganya untuk mencari pertolongan pada psikiater adalah kemungkinan akan kecanduan “obat penenang”. Ataupun kemungkinan menjadi pengguna “obat penenang” seumur hidup dengan mengunjungi psikiater.

Pertanyaan : Apakah obat-obat psikiatri adalah obat penenang?
Jawaban: Ada sebagian obat psikiatri yang memang memberi efek menenangkan. Misalnya obat-obat golongan benzodiazepin yang memang berfungsi sebagai obat anti cemas/panik sehingga ketika serangan cemas/panik muncul dan pasien meminum obat anti cemas, serangan mereda dan pasien merasa tenang. Ada pula golongan obat-obat anti psikotik yang umumnya diberikan pada pasien yang mengalami gaduh gelisah. Yang di maksud dengan kondisi gaduh gelisah adalah kondisi di mana seorang pasien mengamuk, bersikap mengancam, atau menunjukan tanda-tanda kekerasan. Dengan mendapatkan terapi obat antipsikotik, umumnya kondisi ini dapat diatasi dalam pengertian pasien tidak lagi mengamuk, bersikap mengancam, atau mengalami gaduh gelisah. Obat anti psikotik sendiri selain digunakan sebagai obat untuk mengatasi kondisi tersebut, juga digunakan pada pengobatan skizofrenia dan beberapa gangguan psikiatrik lainnya. Obat-obat golongan lainnya yang juga digunakan dalam mengatasi gangguan psikiatrik adalah obat-obat anti depresan, psikostimulan, anti konvulsan, mood stabilizer, dan anti kolinergik di mana masing-masing obat digunakan sesuai dengan indikasi diagnosis yang ditegakan dan tidak menyebabkan tenang seperti yang dimaksudkan dalam pengertian obat penenang.

Pertanyaan: Apakah semua obat psikiatri menyebabkan tidur atau mengantuk?
Jawaban: Ini merupakan pernyataan kedua yang paling banyak menyangkut mitos “obat penenang” itu tadi. Pasien saya umumnya menyatakan “Dokter nanti kalau saya minum obatnya.. Saya nanti tidur terus dan mengantuk.” Tidak semua obat psikiatri menyebabkan mengantuk, ada sebagian obat yang justru sebaiknya tidak diminum pada malam hari karena dapat menyebabkan sulit tidur. Ada pula obat-obat yang tidak berpengaruh sama sekali pada pola tidur. Sebagian obat psikiatri yang menyebabkan mengantuk pun, umumnya tidak lagi memberikan efek mengantuk setelah tubuh terbiasa.

Pertanyaan: Apakah semua obat psikiatri harus diminum seumur hidup?
Jawaban: Lama minum obat bervariasi pada kasus-kasus psikiatri tergantung diagnosis pasien. Pada beberapa diagnosis, obat hanya diminum selama diperlukan sama seperti obat-obat pada penyakit fisik. Pada jenis lainnya, obat diminum untuk jangka waktu tertentu sebelum akhirnya dapat dihentikan. Namun memang ada pula pasien yang perlu minum obat hampir sepanjang waktu, misalnya karena terjadi kekambuhan (relaps) berulang dalam jangka waktu yang tergolong dekat, misalnya pada orang dengan skizofrenia atau penderita gangguan bipolar yang relaps terus-menerus.

Pertanyaan: Sebetulnya bagaimana cara obat-obat psikiatri bekerja?
Jawaban: Hampir semua obat-obat psikiatri bekerja dengan memanipulasi berbagai neurotransmiter di sistem saraf pusat (otak). Otak adalah organ yang terdiri dari berjuta-juta sel saraf. Otak mampu melakukan fungsinya dengan baik bila sel-sel otak bekerja dengan baik pula. Kondisi ini tercapai bila terdapat komunikasi yang benar antar sel-sel saraf. Neurotransmiter adalah zat yang diperlukan dalam mengatur komunikasi antar sel saraf. Neurotransmiter di otak banyak sekali jenisnya, misalnya dopamin, serotonin, GABA, norepinefrin, epinefrin, dan lain sebagainya. Tiap neurotransmiter memiliki fungsinya tersendiri dan memengaruhi otak dalam cara-cara yang berbeda sehingga menghasilkan emosi, perilaku, cara berpikir, bertindak yang berbeda pada seseorang. Setiap gangguan psikiatri umumnya terkait dengan sistem neurotransmiter yang berbeda, misalnya gangguan sistem dopamin pada skizofrenia dan psikotik lainnya, gangguan sistem serotonin pada depresi dan gangguan mood lainnya, dan lain sebagainya. Obat-obat psikiatri akan memperbaiki sistem neurotransmiter sehingga sistem tersebut menjadi stabil kembali dan akhirnya memperbaiki emosi, perilaku, cara berpikir, dan bertindak seseorang.

Pertanyaan: Apakah obat-obat psikiatri menyebabkan kecanduan?
Jawaban: Dalam bahasa medis, kecanduan disebut dengan adiksi. Memang betul terdapat golongan obat psikiatri yang berpotensi untuk menimbulkan adiksi, misalnya golongan benzodiazepin yang digunakan sebagai obat anti ansietas namun bila digunakan dengan benar dan dalam pengawasan dokter umumnya kondisi adiksi dapat dicegah. Adiksi obat/zat ditandai dengan:
• keinginan kuat untuk selalu menggunakan suatu zat/obat tersebut
• tidak mampu mengontrol perilakunya untuk tidak menggunakan zat/obat tersebut
• timbul gejala putus zat bila zat/obat dikurangi dosisnya/tidak digunakan lagi
• terdapat toleransi di dalam tubuh yaitu keadaan di mana kadar obat/zat harus terus-menerus dinaikan bila ingin mencapai efek yang sama
• pikiran terus-menerus untuk menggunakan zat/obat tersebut
• tetap “ngotot” menggunakan zat/obat meski tahu adanya risiko yang membahayakan dari zat tersebut
Bila dilihat dari kriteria adiksi tersebut, hampir semua obat-obat psikiatri tidak menyebabkan kondisi yang tersebut di atas sehingga tidak dapat dikatakan menyebabkan kecanduan.

Jadi jangan lah takut untuk pergi ke psikiater bila mana memerlukannya. Tanyakan dengan jelas pada dokter Anda apa fungsi, indikasi, dan hal-hal lain yang ingin diketahui mengenai terapi obat yang diberikan. Semoga informasi ini cukup mencerahkan bagi yang membaca artikel ini.

Catatan: Bila mana ada pertanyaan lain yang Anda ingin tanyakan soal penggunaan obat psikiatri, Anda dapat mengirimkan langsung pertanyaan Anda ke email kami nur.asa.medika@gmail.com. Kami akan meneruskan pada dokter kami dan memberikan jawabannya di artikel ini.

Mengenal Depresi Pasca Skizofrenia

Ditulis oleh: dr.Fransiska Irma,SpKJ
Psikiater Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Tulisan ini saya buat setelah mendapatkan pertanyaan di wall facebook Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) mengenai kondisi adanya gejala depresi yang terjadi setelah suatu episode gejala skizofrenia yang nyata mereda. Diceritakan bahwa pasien dengan skizofrenia baru pulang rawat inap dari rumah sakit namun kemudian menunjukan gejala waham nihilistik yang menonjol.

Apa itu Depresi Pasca Skizofrenia?

Depresi paca skizofrenia adalah kondisi munculnya gejala depresi pada penderita skizofrenia. Diagnosis baru dapat ditegakan bila:
1. Gejala skizofrenia telah berlangsung sekurangnya 12 bulan lamanya dan memenuhi kriteria diagnostik untuk salah satu jenis skizofrenia.
2. Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada tetapi gejala-gejala sudah berkurang sehingga tidak lagi nampak menonjol ditemui pada pasien.
3. Gejala-gejala depresi menonjol dan mengganggu serta harus memenuhi suatu kriteria episode depresi dan telah berlangsung dalam kurun waktu sekurangnya 2 minggu.

Kriteria diagnostik ini merupakan kriteria yang termuat dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa yaitu kumpulan kriteria diagnostik berbagai gangguan kejiwaan yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang diadaptasi dari ICD-10 yaitu klasifikasi diagnosis menurut WHO.

Jadi berdasarkan klasifikasi diagnostik tersebut, seorang dengan kondisi depresi pasca skizofrenia akan menunjukan gejala-gejala depresi yang menonjol sementara gejala skizofrenianya sendiri sudah tidak lagi menonjol. Gejala tersebut muncul setelah atau pada masa berlangsungnya suatu episode skizofrenia yang jelas sebelumnya.

Pentingnya mengenali depresi pasca skizofrenia

Penting baik bagi orang dengan skizofrenia (ODS) ataupun care giver ODS untuk mengenali gejala depresi pada penderita skizofrenia. Dalam berbagai penelitian gejala-gejala depresi ini sering menjadi penyebab bunuh diri pada penderita skizofrenia bila tidak ditangani dengan benar. Bila mana gejala-gejala depresi muncul, segeralah kembali berkonsultasi dengan dokter psikiater. Terapi yang diberikan umumnya merupakan kombinasi terapi dengan obat dan non obat, seperti misalnya psikoterapi.

Semoga artikel ini menambah pengetahuan para pembaca.

ADHD Apakah Sama dengan Autisme?

Ditulis oleh: Maria Ayuningtias, M.Psi., Psikolog.
Psikolog Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Beberapa tahun belakangan, autisme menjadi salah satu “trending topic” gangguan perkembangan pada anak. Padahal selain autisme, masih terdapat berbagai macam gangguan perkembangan yang lainnya. Salah satu gangguan perkembangan yang cukup sering ditemui dalam pengalaman praktek psikologi saya, adalah ADHD.

Mengenal ADHD

ADHD adalah suatu gangguan perkembangan yang ditandai dengan adanya gangguan pemusatan perhatian dan / atau tingkah laku yang hiperaktif. ADHD merupakan kepanjangan dari (Attention Deficit / Hyperactivity Disorder) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas). Menurut data, ADHD lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Seringkali terjadi, anak dengan ADHD salah diberi diagnosa yang lain, mau pun di “label” sebagai anak yang nakal dan tidak dapat diatur. Padahal hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman orang tua, mau pun pengajar tentang gejala-gejala ADHD.

Semakin cepat gangguan ADHD di deteksi, dan mendapatkan penanganan maka harapannya prognosisnya (perkembangan ke depannya) menjadi semakin baik. Diharapkan orang tua yang melihat atau mencurigai adanya gejala-gejala ADHD pada anaknya, dapat segera mengkonsultasikannya kepada tenaga profesional (psikolog, psikiater, mau pun dokter anak). Jangan sampai menunda-nunda waktu, dan mengabaikan gejala-gejala yang ada.

Diagnosa ADHD sendiri idealnya tidak hanya ditegakkan oleh tenaga profesional dari satu bidang ilmu tertentu (misalnya hanya psikolog atau psikiater atau dokter anak), namun diperlukan pendekatan multi disiplin untuk memberikan diagnosa ADHD (atau pun gangguan perkembangan yang lain).

Penyebab ADHD
Hingga saat ini, penyebab dari ADHD belum diketahui secara pasti. Namun beberapa ahli percaya bahwa ADHD dibebabkan karena kondisi medis atau gangguan perkembangan neurologis yang disebabkan karena ketidakseimbangan kimiawi di otak. Selain itu beberapa ahli juga mengatakan kemungkinan ADHD disebabkan oleh gangguan pada masa kehamilan, ibu yang merokok atau mengkonsumsi alkohol di masa kehamilan,atau ibu yang mengalami stress akut saat masa kehamilan.

Gejala utama dari ADHD
a. Inattention (kesulitan memusatkan perhatian) , yang antara lain ditandai dengan :
• Kegagalan dalam memberikan perhatian, kegagalan dalam bekerja secara detil, mau pun seringkali melakukan kecerobohan.
• Kesulitan menjaga konsentrasi dalam menerima tugas atau melakukan suatu aktivitas
• Sering terlihat tidak mendengarkan jika berbicara dengan orang lain.
• Kesulitan mengatur tugas dan kegiatan tertentu.
• Cenderung menghindar, tidak senang mau pun enggan mengerjakan tugas yang membutuhkan suatu usaha.
• Sering kehilangan sesuatu.
• Mudah teralihkan perhatiannya.
• Sering melupakan tugas sehari-hari.

b. Hiperaktivitas, yang antara lain ditandai dengan :
• Sering tampak menggerakkan tangan, kaki, dan menggeliat di tempat duduk
• Seringkali meninggalkan tempat duduk pada situasi yang mengharuskannya tetap duduk.
• Sering berlari atau memanjat.
• Mengalami kesulitan bermain atau kesulitan mengisi waktu luang dengan tenang.
• Berperilaku seolah digerakkan oleh “motor”
• Berbicara secara berlebihan.

c. Impulsivitas
• Melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang.
• Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diucapkan
• Mengalami kesulitan dalam menunggu giliran.
• Menyela atau memaksakan sesuatu kepada orang lain.

 

ADHD dapat dikategorikan menjadi tiga tipe
Tipe I : Tipe kesulitan konsentrasi (Predominately Inattentive)
Tipe II : Tipe hiperaktif – impulsif (Predominantly Hyperactive – Impulsive Type)
Tipe III : Tipe kombinasi (Combined Type)

Penanganan untuk gangguan ADHD

Diperlukan pendekatan multi disiplin untuk menangani ADHD, antara lain dengan :
a. Edukasi bagi orang tua, dan pengajar
Edukasi menjadi hal yang pertama kali harus dilakukan ketika anak di diagnosa ADHD, agar para orang tua dan pengajar memiliki informasi yang tepat mengenai ADHD, dan penanganan yang harus dilakukan.
b. Terapi Farmakologi
Penggunaan obat-obatan yang sesuai (untuk bidang ini, kiranya lebih tepat psikiater atau dokter anak yang membantu menjelaskannya). Terkadang terapi farmakologi digunakan terlebih dahulu agar anak lebih siap untuk mendapatkan terapi perilaku.
c. Terapi Perilaku
Terapi perilaku menyasar pada perubahan pola perilaku anak yang negatif menjadi perilaku positif, dan membantu anak agar lebih mampu mengendalikan reaksi berlebihan, reaksi emosional, dan sebagainya.
d. Pendekatan Psikososial
Pendekatan psikososial dapat berupa pelatihan ketrampilan sosial bagi anak ADHD dengan tujuan antara lain, agar anak dapat memahami norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat serta berperilaku sesuai dengan norma yang ada.

Penanganan yang dipaparkan diatas tidak dapat berdiri sendiri. Tidak ada satu jenis penanganan yang paling baik dibandingkan dengan penanganan lainnya, namun hendaknya penanganan tersebut harus saling melengkapi satu sama lain.

Mungkinkan ADHD terjadi pada orang dewasa?
Sangat mungkin. Beberapa penelitian juga mengatakan, ADHD dapat bersifat genetik, yang artinya bahwa ADHD dapat diturunkan (meski pun tidak selalu) dari orang tua kepada anaknya. Dalam pengalaman praktek saya, sering saya temui bahwa orang dewasa dengan ADHD tidak menyadari bahwa mereka terkena ADHD. Bahkan beberapa orang dewasa baru menyadari dirinya juga mengalami ADHD, setelah anaknya di diagnosa ADHD.
ADHD pada orang dewasa seringkali menyebabkan individu tersebut mengalami kesulitan dalam bekerja atau membangun relasi dengan orang lain. Gejala ADHD pada orang dewasa menyerupai gejala ADHD pada anak-anak, antara lain : kesulitan untuk berkonsentrasi dalam waktu yang panjang, mudah terpancing emosinya (temperamental), tidak sabar, kesulitan mengorganisir dan menyelesaikan tugas.

Jadi jika anda, orang yang anda kenal atau anak anda terlihat memiliki gejala-gejala yang telah dipaparkan diatas, jangan tunda lagi! Segera berkonsultasilah kepada profesional untuk membantu anda.

Ketika Pikun Melanda

Ditulis oleh: dr.Fransiska Irma,SpKJ
Psikiater Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Saat ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan dunia kesehatan telah meningkatkan angka harapan hidup rata-rata di seluruh dunia. Jumlah penduduk lansia meningkat dengan tajam dalam beberapa dekade terakhir. Masalah yang kerap ditemui pada penduduk lansia adalah kepikunan. Pikun adalah bahasa awam untuk mengistilahkan kondisi mudah lupa. Kondisi ini dapat merupakan bagian dari demensia yaitu penurunan daya kerja otak akibat matinya sel-sel saraf otak. Di tahun 2010, demensia diidap oleh lebih dari 35,6 juta penduduk lansia dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam jangka waktu 20 tahun menjadi 65,7 juta orang di tahun 2030.

Problema pada penderita demensia bukan hanya masalah mudah lupa saja namun juga timbulnya perubahan emosi dan perilaku yang sering menyertainya. Perubahan emosi dan perilaku yang sering tampak misalnya depresi, mudah marah, galak dan mudah memukul, apatis, nampak diam tak mau beraktivitas, tidak mau merawat diri, mengulang-ulang hal yang sudah dikatakan, bicara melantur/”berbohong”/asal jawab ketika ditanya, tidak mau dan tak mampu merawat diri, jam tidur bangun yang tak sesuai orang normal, takut ditinggal, menjadi tak tahu malu, tak dapat menahan keinginannya, berteriak-teriak, berhalusinasi, curiga dengan orang lain, dan lain sebagainya. Perubahan emosi dan perilaku ini dikenal dengan istilah medis BPSD (Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia). BPSD sering kali merupakan sumber stres utama dan terberat bagi keluarga yang merawat penderita.

Keluarga penderita demensia sering tidak mengetahui bahwa perubahan perilaku dan emosi yang timbul merupakan bagian demensia yang dialami pasien. Keluarga kemudian dapat memberikan respon yang salah atau salah bersikap karena ketidaktahuan tersebut. Ketika BPSD yang dialami pasien sudah berat, umumnya keluarga berespon dengan memasukan pasien ke rumah sakit atau mencari pengasuh pengganti yang dapat menemani pasien sehingga memberikan beban ekonomi tambahan bagi keluarga. Selain itu kualitas hidup pasien dan keluarga yang didera stres berkepanjangan juga dengan sendirinya menurun. Banyak sekali keluarga yang anggotanya menunjukan gejala-gejala depresi akibat harus merawat penderita demensia yang memiliki gejala-gejala BPSD.

Penderita demensia perlu untuk dibawa ke dokter untuk memastikan bahwa memang yang dialami adalah demensia. Banyak kondisi yang dapat menyerupai gejala demensia dan tugas dokter memastikan bahwa gejala-gejala yang ada memang disebabkan oleh demensia dan bukan karena disebabkan oleh kondisi lainnya. Bila gejala yang ada disebabkan oleh sakit lainnya, dokter dapat langsung memberikan tatalaksana yang tepat dan sesuai. Diagnosis dini dapat membantu keluarga dalam menyusun rencana ke depannya, bagaimana keluarga bersikap, cara merawat pasien dengan benar, dan juga yang penting bagaimana menurunkan stres dalam keluarga sendiri. Hal ini dapat dikonsultasikan pada dokter psikiater.

Hingga saat ini belum terdapat obat yang dapat menyembuhkan demensia namun sebetulnya gejala-gejala yang menyertai demensia seperti BPSD sebagian dapat dikontrol dengan terapi menggunakan obat-obatan klinis sekaligus dikombinasikan dengan terapi tanpa obat-obatan misalnya dengan melakukan konseling dan psikoterapi secara teratur terhadap keluarga yang merawat sehingga kadar stres dapat dikurangi dan pada akhirnya hal ini akan membantu membentuk sikap keluarga yang positif terhadap penderita.