Disleksia : Kesulitan Belajar Spesifik yang Sering Terlupakan

Ditulis Oleh: Maria Ayuningtias, M.Psi., Psi.
Psikolog Klinik Jiwa dan Panti Rehabilitasi Mental Jiwa Sehat

Ilustrasi Kasus :

A adalah seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SD. Ketika pertama kali datang pada saya, A dikeluhkan oleh orang tua, dan guru lesnya karena mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam jangka waktu yang panjang, dan mudah lupa tentang sesuatu terutama yang berkaitan dengan pelajaran. Ia juga mengalami kesulitan dalam pelajaran dikte (spelling) dan mengeja, serta kesulitan mengerjakan tugas di sekolah yang berkaitan dengan tulis menulis jika tidak didampingi oleh orang lain. Saat di sekolah, A kesulitan ketika menjawab pertanyaan dalam bentuk tulisan, tetapi ketanya ditanya secara lisan, ia mampu menjawab dengan benar. Hal tersebut mulai nampak ketika A berada di Taman Kanak-Kanak, dan semakin bertambah “parah” ketika A duduk di bangku Sekolah Dasar, karena tuntutan yang lebih banyak untuk menulis.

Contoh kesulitan yang dialami oleh A :
• Ketika pelajaran dikte, A sering salah menulis.
Contohnya : menulis CAT (kucing dalam bahasa Inggris) menjadi  ACT
menulis OWL (burung hantu dalam bahasa Inggris) menjadi  MOL
• A sering tertukar saat menulis huruf b dengan huruf d, sering salah membedakan antara q dan p, m dan w, dan sebagainya.

Hasil tes IQ menunjukkan taraf intelegensi A yang berada pada taraf rata-rata atas. Dari hasil asesmen dengan orang tua , didapatkan pula data bahwa A mengalami keterlambatan berbicara sewaktu kecil.

Mengenal Disleksia
Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani, yaitu berasal dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata ”lexis” yang berarti bahasa. Disleksia yang secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa” merupakan suatu kesulitan belajar spesifik yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat, kesulitan dalam membaca, kesulitan dalam mengeja, kesulitan dalam menulis dan kesulitan dalam beberapa aspek bahasa yang lain.

Seringkali ditemui, anak dengan disleksia memiliki prestasi yang buruk di sekolah, meski hasil tes IQ (tes kecerdasan) menunjukkan IQ rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Beberapa ahli menganggap disleksia baru dapat ditegakkan pada usia 6-7 tahun, ketika anak menginjak bangku Sekolah Dasar. Hal tersebut dikarenakan pada usia Taman Kanak-Kanak, orang tua mau pun guru menganggap “wajar” ketika seorang anak sering terbalik menulis beberapa huruf, kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip, kesulitan menggunakan huruf besar dan kecil sesuai dengan tata cara yang benar, dan sebagainya. Bahkan dalam beberapa kasus, individu dengan disleksia tidak terdeteksi hingga usia dewasa.

Mengenali Tanda-tanda Awal Disleksia

Disleksia sering terlupakan, atau terlambat untuk di deteksi. Bahkan seringkali orang tua atau guru menganggap anak dengan disleksia adalah anak yang malas, anak yang bermasalah, hingga diberi label “anak yang bodoh”.
Beberapa tanda-tanda yang sering ditemui untuk deteksi dini disleksia (Sumber Referensi : Disleksia Today Genius Tomorrow) :
1. Adanya riwayat keluarga dekat yang juga mengalami hal yang sama
2. Mengalami keterlambatan bicara.
3. Kesulitan menemukan istilah yang tepat dalam berkomunikasi. Misalnya mengatakan kata “tebal” untuk menjelaskan kata “dalam”.
4. Kesulitan membedakan kiri dan kanan secara tepat.
5. Rentang konsentrasi yang singkat.
6. Daya ingat yang pendek.
7. Kesulitan memahami persoalan yang membutuhkan logika bahasa.
8. Berbicara terkadang gagap, atau tidak runtut ketika menceritakan tentang sesuatu.
9. Tertukar huruf yang mirip (mirror image), angka dan huruf yang mirip.
Cotoh : b dengan d atau sebaliknya , p dengan q atau sebaliknya, 5 dengan z atau s, 9 dengan 6 atau sebaliknya.

Dampak Keterlambatan Diagnosa atau Penanganan Disleksia
Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin dini deteksi disleksia, dan semakin dini pemberian intervensinya maka prognosisnya (perkembangan kedepannya) akan semakin baik. Sebaliknya ketika terjadi keterlambatan penanganan disleksia, akan berdampak pada gangguan sosial mau pun gangguan emosi. Anak mau pun remaja yang “terlewat” dari deteksi disleksia dapat menjadi individu yang kurang percaya diri karena merasa tidak pintar dibanding teman-temannya, mudah marah, dan sebagainya.

Individu dengan disleksia bukan berarti tidak dapat meraih kesuksesan di kemudian hari, jika ditangani dengan tepat. Beberapa orang terkenal juga banyak yang mengalami disleksia, antara lain : Lee Kuan Yew, Albert Einsten, Agatha Christie, dan masih banyak lagi.

Yang harus dilakukan
Sekali lagi deteksi dini sangatlah penting untuk dilakukan. Jadi jika anda, orang yang anda kenal atau anak Anda terlihat memiliki tanda-tanda yang telah dipaparkan diatas, jangan tunda lagi! Segera berkonsultasilah kepada profesional untuk membantu anda.

Semoga Bermanfaat!

Beberapa materi di dapatkan dari sumber referensi :
Disleksia Today Genius Tomorrow – dr.Purboyo Solek Sp.A (K) dan dr. Kristiantini Dewi Sp.A

Iklan

2 pemikiran pada “Disleksia : Kesulitan Belajar Spesifik yang Sering Terlupakan

Tinggalkan pesan Anda...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s